Input & Output

Yesterday.. All my troubles seemed so far away.. -jiah, malah nyanyi haha-
Sebenernya gue mau berbagi cerita sedikit tentang indera manusia yang bisa berfungsi sebagai inputor maupun outputor, tergantung individunya mau ngeguanainnya sesuai dengan fungsinya ato enggak.

Semalem, seperti biasa, sehabis sholat maghrib berjamaah bareng suami *eaaa, sekalian pamerin suami tercinta biar eksis* kita ngobrol-ngobrol unyu gitu, ngebahas segala sesuatu yang pengen dibahas aja, apa aja yang ada di otak diomongin ahahhaha ramdom abis! :D

Nah, sampe akhirnya perbincangan nyampe ke topik tentang bagaimana cara berkomunikasi yg baik & benar. He's told me if we have to use our organ by maturity. It's mean yang namanya manusia kan udah dikasih sama Allah sepasang mata, sepasang telinga, 1 hidung dengan 2 lubang dan 1 mulut. Kita semua juga pasti udah tau kan fungsinya masing-masing.

Sekarang yang mesti kita telaah lagi, apa yaa kira-kira maksud Allah ngasih kita mata, telinga dan lubang hidung dengan jumlah yang lebih banyak dibanding mulut. Kalo kata laki gue sih gini: sepasang mata untuk melihat sesuatu, sepasang telinga untuk mendengar sesuatu & 2 buah lubang hidung yg digunakan setelah kita memproses suatu kejadian kemudian kita take a breath biar bisa mikir jernih. Nah, baru deh si mulut yang tugasnya sebagai outputor bisa mengeluarkan kata-kata yang baik karena semuanya insya Allah sudah difilter.

Sorry nih gue agak kurang bisa re-explanation soalnya, jd agak blibet gitu penjelasannya yak haha.. Tapi sumpah deh, pas semalem lagi dijelasin sama suami gue berasa adem banget ini hati. Bersyukur banget deh bisa punya imam yang kata-katanya selalu bisa mendamaikan hati, pikiran dan juga jiwa (mensana incorporisano -red). Yaa sama kayak yang didoain banyak orang pas kita nikahan, "semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah". Kenapa yg pertama disebut tuh sakinah duluan? Yaa karena kita gapernah bisa mungkirin sebagai manusia pasti selalu mendambakan yang namanya "KEDAMAIAN"

At least, bukan maksud mau takabur, tapi gue ngerasa he is the best that God send to me at that moment (pada waktu itu saja.hahaha *joke) in every moment juga dong tentunya. Feel like he’s not only being my man, but he could be my friend, best friend in every time i feel down n happy, oh you are so completely ;’)

And The Story Began..

Tanggal 25 Juli 2015, tepat seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri


di pelaminan mana lagi lo bisa dapet foto penganten megang banner :D
 

Obat Terbaik Bernama Kasih Sayang

Orang dulu mengistilahkan dengan, “Udah ada yang ngerawat!” Orang sekarang mengistilahkan dengan, “Kalau bangun tidur yang dilihat bukan WhatsApp”. Pernikahan akan membuat pasangan saling merawat dari hari ke hari. Saat sakit ada yang merawat, letih ada yang memijit, dan beragam momen bersama lainnya. Mengutip Tulus, pernikahan akan membuat Anda “Bersama arungi derasnya waktu.”

Bukan Makeup, Pernikahanlah Yang Membuat Anda Menarik
Pernikahan membuat Anda berani untuk berkomitmen, mengelola ekspektasi, dan membangun kepercayaan bersama. Semua hal itu akan membuat Anda semakin menarik tak hanya secara fisik, tapi juga karena pemikiran yang matang.

Membeli Hal Yang Lebih Mahal dari Ferrari
Saat menikah kita akan terlatih untuk konsisten, mulai dari konsisten memilih pasangan hidup, konsisten mengelola keuangan keluarga, dan konsisten lainnya. Dan ingat di zaman Doraemon tergantikan oleh Google ini, konsistensi lebih mahal harganya dari sebuah mobil Ferrari. :)

Kekuatan Dua Dompet
“Tahu caranya biar bisa kredit rumah, Mas?” tanya seorang sales KPR. Ia lalu melanjutkan, “Nikah, Mas, karena dengan menikah pendapatan Mas dan istri akan bisa digabung untuk kredit.” Sales KPR itu ada benarnya. Tentu salah jika menikah hanya karena uang, tapi secara realistis pernikahan akan membuat kita memiliki kecukupan finansial.

Kehidupan Sex Yang Lebih Baik
Silahkan Googling dan temukan sendiri bahwa kehidupan sex yang baik akan membuat kita lebih bahagia. Pernikahan akan membuat kehidupan sex lebih baik, itu berarti membuat hidup lebih bahagia.
Pepatah lama mengatakan lompatan besar diawali dengan satu langkah kecil. Jika Anda sudah yakin dengan pasangan, maka tak ada salahnya untuk segera berlari menghubungi penghulu!

The Big Wishing




I love the way you are, dam! :*

Insya Allah, tulus karena Allah ta'ala.. 
Segera jadikanlah aku halal bagimu :') 

Berbagi Harapan dengan Travelling

 “Traveling is not just seeing the new; it is also leaving behind. Not just opening doors; also closing them behind you, never to return. But the place you have left forever is always there for you to see whenever you shut your eyes.” –Komang Adhyatma, 2013

Nah, sekarang saatnya untuk menceritakan bagaimana asal muasal gue bisa kecemplung di komunitas yang penuh sama orang ‘ajaib’ ahahhhaa :D Ini semua berkat kegajean seorang temen gue yang bernama Anjar, sang umbrella boy haha.. Dia ngajakin gue dan ketiga temen gue, Mega, Deghe, dan Aget buat ikutan acara Piknik Emesh di Ragunan hari Minggu yang lalu. Tapi sayang banget Aget gak bisa ikut karena mesti ibadah. Jadilah kita cuma bertiga nurutin ajakan Anjar *dengan terpaksa haha*.
Pertama nyampe hufh, gue beneran tengsin loh, secara boncengan motor bertiga, pake baju merah ngejreng samaan bertiga, duh udah mirip cabe-cabean banget deh. Gue sampe ngomong gini, “Liat deh tuh yang pake kaos Japen ngeliatin kita mulu, gue gamau dianggap ‘calon temen’ yang alay huhu” -_____-


Dita, Deghe, & Mega

Akhirnya Anjar datang juga sekalian meng-endorse kita dengan nasi Padang hoho bisaan yeeehhh bayaran telatnya nasi Padang :p Tapi gak lama kita dibikin gerah lagi sama si guide nya, diajak mutar-muter gajelas buat nyari Scumuzher yang ternyata adalah Taman Primata. Sampe-sampe Mega bilang gini, “Yaelah Njar, bilang aja Rumah Gorila, gue pasti langsung tau, secara rumah gue deket”. Setelah beli tiket, bertemulah kita dengan anak-anak Japen yang lain, yang lagi sibuk foto-foto. Kalo gak salah mereka yang narsis itu terdiri dari Ka Ikus, Ayu, Teh Gigie, Widya, udah yang laen mah eike lupa lagi. Soalnya mereka yang paling gak bisa diem jadi gampang dihafal haha :D
            Oke, tibalah saatnya makan siang. Jujur, ini saat yang paling gue tunggu-tunggu, secara gue belom sarapan dari Bogor heu.. Tapi ternyata gue ditinggalin sama Anjar, Mega dan Deghe, mereka cabut ke Mesjid, sedangkan gue disuruh ngejagain makanan haha kamvret! Disini gue ditantang untuk struggle guys! Bayangin aja, gue berada di antara makhluk-makhluk yang lagi kelaparan yang sesekali melirik perbekalan kita itu huaaaaaa~ *sorry ini lebay* Tapi, untunglah gak lama mereka balik kok, mari kita makaaaaannn.. Itadakimasuuuuuu~
            Setelah acara perkenalan yang dilanjutkan dengan acara tukeran kado *padahal kita bertiga gak bawa kado hakhak!* dengan sedikit ada kecemburuan sosial, kita hartus terima gak dapet kado :( Eh eh, cara harus segera diakhiri nih karena cuaca yang tidak mendukung.. Langit nya udah gelap aja mameeeeenn! Padahal masih jam 3 loh ini huhu :( Ah gaasik ah nih, padahal gue belum dapet gebetan sama sekali, masa udah kudu pisah aja #eh
Di saat lagi neduh, Anjar ngenalin Mega ke Bang Acen buat direkrut jadi Designer, dan doi juga lagi nyari Editor, yasyudaaahhh gue menawarkan diri deh, biar bisa sedikit berkontribusi di komunitas ini.. Doakan saya yak! ^^v
Acara Piknik Emesh ini subhanallah banget.. Angkat topi bagi semua panitia dan peserta yang ikut acara ini.. Ternyata di Indonesia masih banyak orang-orang hebat seperti kalian yang cinta banget sama alam.. Semoga semangat travelling tetap terjaga dan bisa ditularkan ke banyak penjuru ;) gak nyesel ikutan jadi member Japen.. Insightful banget.. Trully inspiring.. Baru beberapa hari gabung di grup whatsapp-nya tapi udah berasa kayak keluarga aja.. Super salut! :)


Inilah 'Calon Teman' yang sudah menjelma menjadi 'Keluarga Baru' ;)

Ketika bertemu kalian, para anggota Jalan Pendaki, pikiran gue mengawang kembali ke ingatan masa lalu..
Jaman dahulu kala, 260 tahun sebelum Masehi, hiduplah seorang gadis yang sedang menuntut ilmu di negeri sebrang. Hyaaaaaa~ Kenapa malah jadi ngedongeng yak? Oke, kali ini serius yaaa.. Sebelum gue bercerita panjang lebar tentang apa dan kenapa gue ikut Komunitas Jalan Pendaki, izinkanlah gue yang imut ini untuk berbagi pengalaman saat bergabung dengan Komunitas Book For Mountain (BFM). Boleh dong yaaaa??
Waktu itu, sekitar tahun 2011 gue yang berstatus masih kuliah semester eeenggg.. (udah semester berapa yah? Maaf mendadak amnesia :p) di sebuah Universitas swasta di Jogja, eh tapi sekarang udah jadi Negri deng hoho *banggaaaaa*, dengan sok eksis ikut gabung ke sebuah komunitas yang bergerak di bidang pendidikan dengan target menjangkau sekolah-sekolah dasar yang tidak memiliki perpustakaan dan berada di daerah terpencil di Indonesia.
BFM yang mengusung slogan “We love kids, We love books, We adore Indonesia ini sudah 4,5 tahun berdiri. Perjalanan BFM tak bisa lepas dari kata travelling, sudah 13 kali project di 17 desa di 7 pulau di Indonesia. Coba bayangin, kalo temen-temen di BFM gak suka travelling kayaknya gak mungkin bisa deh :p
Emang mayoritas temen-temen yang bergabung di BFM tuh dasarnya seneng travelling, karena itu juga kegiatan project pembangunan perpustakaan BFM masih terus berjalan. Project yang sudah dijalankan oleh BFM sejauh ini antara lain seperti Sekber dan Voluntourism pun tidak bisa lepas dari yang namanya travelling. Melalui traveling, mereka bisa menemui dan menyapa adik-adik kita di pelosok Indonesia, untuk selanjutnya dapat berbagi kebahagiaan dengan amak-anak. Melalui travelling jugalah mereka dapat meningkatkan semangat berbagi dan menginspirasi terhadap anak-anak di pelosok Indonesia.
Travelling ke pelosok-pelosok Indonesia untuk berbagi inspirasi dan menularkan minat baca kepada anak-anak. Wah, semangat yang sangat bagus yaa, dan semangat itulah yang harus terus dipertahankan oleh teman-teman BFM, semangat berbagi dan menginspirasi :)
Pada dasarnya semua orang suka travelling, so kenapa tiap travelling tidak dicoba untuk meninggalkan suatu yang berkesan?
Gue sih jadi kepikiran buat ngegabungin idealisme dari 2 komunitas yang emang beda-beda tipis ini.. Yang pertama travelling sambil ngajar, yang keduanya murni travelling, yaa sekedar piknik hore lah.. Hey guys, gimana kalo kita yang suka travelling ini join di project Voluntourism nya BFM yang akan datang?

Buat ngasih gambaran tentang ngapain aja sih project Voluntourism tuh, gue kasih cuplikan cerita dari seorang teman gue di BFM, Arni Rohmiatun, inilah catatannya.. So, here it is.. *and here’s the longest part* semoga gak males baca sampe abis yah, hehe..


B O N E !!!

            Langit Bone selalu membiru, bahkan awan pun terpola cantik meski tak beraturan. Ya Bone. Kali ini tim Book fo Mountain (BFM) mengepakkan sayap ke tanah Sulawesi. Menjelajah sisi lain Indonesia, membawa buncahan semangat dan harapan akan perbaikan Negeri.

***

B O N E !!!

            Bone dapat ditempuh sekitar empat jam perjalanan darat dari Makassar. Jalanan yang sempit, menanjak, dan bergelombang, membuat kami tambah tersenyum lebar sembari menahan rasa sakit terguncang di dalam mobil. Dari Bone menuju desa tempat BFM akan diadakan, masih diperlukan waktu sekitar satu jam.
            Akses menuju tempat ini baru dibuka sewaktu ada pembanguna bendungan di desa tersebut. Bahkan konon sebelum dibuka jalan ini, perjalanan dari Bone ke Ponre-Ponre hanya bisa ditempuh dengan menaikki kuda Selma satu hari satu malam. Unbelievable!

And here we are!!!

            Sampailah kami di Desa Ponre-Ponre. Perpaduan nuansa hijaunya alam dan birunya langit membuat mood kembali membaik. Rumah panggung yang menjadi cirri khas Sulawesi menyambut hangat kedatangan kami. Dan tepat di seberang rumah panggung yang bakal jadi rumah sementara kami inilah, Sekolah Jauh Tompo Bulu, Ponre-Ponre berada.

Miris!

            Mereka menyebutnya sekolah. Bangunan yang kira-kira hanya berukuran sekitar 4 x 4 meter. Sebuah bangunan dari bamboo menyerupai gubuk yang disekat-sekat dan sudah bolong-bolong di atap dan dindingnya. Tak jarang banyak sapi yang masuk ke bangunan tersebut untuk berteduh dan mencari makan. Padahal bangunan itu adalah sekolah. Bangunan yang sebenarnya adalah bekas warung bakso yang didirikan ketika pembangunan bendungan.
            Sekolah itu ditempati oleh sekitar 27 siswa terdiri dari dari kelas 1 sampai kelas 6. Guru hanya ada 1 orang dan dibantu oleh 2 orang guru sukarelawan dari warga sekitar. Kalau hujan datang, sekolah libur karena sekolah akan bocor dan bergantilah sang sapiyang berteduh di banguna tersebut. Berbagi itu indah ya? Hehe..
            Mayoritas murid sekolah tinggal jauh dari sekolah. Di ujung desa, di seberang bendungan, bahkan di kaki gunung yang jaraknya berkilometer mendaki dan menuruni bukit. Ketika kami datang, mereka yang rumahnya jauh sengaja menginap di rumah warga sekitar sekolah demi untuk bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk belajar bersama kami.
            Terharu! Luar biasa! Di tengah kesederhanaan seperti itu, lihatlah mutiara-mutiara itu tetap berkilau cemerlang. Mereka mempunyai semangat dan daya juang ekstra tinggi untuk belajar. Tears dropped!
            Yah, anak-anak itu luar biasa. Mereka selalu memenuhi rumah panggung kami dengan keceriaan dan pertanyaan-pertanyaan yang tak terduga. Di luar jam sekolah, dari pagi buta sampai larut malam, mereka terus membuntuti kami. Memaksa kami untuk sekedar bercerita, membacakan buku, bermain, menggambar, menyanyi, bermain origami, atau sekedar bermain tebak-tebakan peta buta.
            Mereka semua anak yang super. Mereka mempunyai daya juang tinggi untuk masa depan mereka. Terselip juga rasa iba akan sepasang kaka beradik yang harus berjuang sendiri mencari sesuap nasi karena ditinggal Ayahnya yang bekerja sebagai buruh bulanan yang tak tentu kapan pulang.

            Subhanallah, lihatlah sisi Indonesia yang seperti ini!

Adakah di antara teman-teman yang belum pernah sekalipun mengikuti upacara bendera? Tidak mengetahui lagu Indonesia Raya? Ya, anak-anak itu belum pernah sekalipun melaksanakan upacara bendera. Mereka tidak tahu apa itu lagu Indonesia Raya. Apa itu Undang-Undang Dasar 1945.
            Tepatlah hari itu, Senin pagi. Hari dimana kami harus berpamitan setelah satu minggu di Ponre-Ponre. Hari dimana mereka pertama kalinya melaksanakan upacara, mengibarkan bendera merah putih, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Hari dimana kami melihat hamper semua anak menyembunyikan tangis di belakang kami.

“Kak, besok balik lagi ya kesini!”

Tak ada suara dari kami. Hanya anggukan dan senyum tulus yang keluar. Deeply touched!

***

Lets fight! Because every child ren have rights to fight.

So, finally, that is all..

Semoga dapat menginspirasi bagi jutaan anak muda di propinsi-propinsi lain untuk bersama-sama memajukan Indonesia melalui pendidikan. Dan yakinlah, bahwa pendidikan yang baik dapat merubah masa depan Indonesia walaupun butuh waktu yang sedikit lama untuk melihat hasilnya, karena segala sesuatu memang butuh proses, ya kan? ;)


“Semua butuh belajar, buat memahami apa yang kita gak ngerti.” –Deghe, 2015