“Traveling is not just seeing the new; it is
also leaving behind. Not just opening doors; also closing them behind you,
never to return. But the place you have left forever is always there for you to
see whenever you shut your eyes.” –Komang Adhyatma, 2013
Nah, sekarang saatnya untuk menceritakan
bagaimana asal muasal gue bisa kecemplung di komunitas yang penuh sama orang
‘ajaib’ ahahhhaa :D Ini semua berkat kegajean seorang temen gue yang bernama
Anjar, sang umbrella boy haha.. Dia ngajakin gue dan ketiga temen gue, Mega,
Deghe, dan Aget buat ikutan acara Piknik
Emesh di Ragunan hari Minggu yang lalu. Tapi sayang banget Aget gak bisa ikut
karena mesti ibadah. Jadilah kita cuma bertiga nurutin ajakan Anjar *dengan
terpaksa haha*.
Pertama nyampe hufh, gue beneran tengsin
loh, secara boncengan motor bertiga, pake baju merah ngejreng samaan bertiga,
duh udah mirip cabe-cabean banget deh. Gue sampe ngomong gini, “Liat deh tuh
yang pake kaos Japen ngeliatin kita mulu, gue gamau dianggap ‘calon temen’ yang
alay huhu” -_____-
Dita, Deghe, & Mega
Akhirnya Anjar datang juga sekalian
meng-endorse kita dengan nasi Padang
hoho bisaan yeeehhh bayaran telatnya nasi Padang :p Tapi gak lama kita dibikin
gerah lagi sama si guide nya, diajak
mutar-muter gajelas buat nyari Scumuzher yang ternyata adalah Taman Primata.
Sampe-sampe Mega bilang gini, “Yaelah Njar, bilang aja Rumah Gorila, gue pasti
langsung tau, secara rumah gue deket”. Setelah beli tiket, bertemulah kita
dengan anak-anak Japen yang lain, yang lagi sibuk foto-foto. Kalo gak salah
mereka yang narsis itu terdiri dari Ka Ikus, Ayu, Teh Gigie, Widya, udah yang
laen mah eike lupa lagi. Soalnya mereka yang paling gak bisa diem jadi gampang
dihafal haha :D
Oke, tibalah saatnya makan siang.
Jujur, ini saat yang paling gue tunggu-tunggu, secara gue belom sarapan dari
Bogor heu.. Tapi ternyata gue ditinggalin sama Anjar, Mega dan Deghe, mereka
cabut ke Mesjid, sedangkan gue disuruh ngejagain makanan haha kamvret! Disini
gue ditantang untuk struggle guys! Bayangin aja, gue berada di antara
makhluk-makhluk yang lagi kelaparan yang sesekali melirik perbekalan kita itu
huaaaaaa~ *sorry ini lebay* Tapi, untunglah gak lama mereka balik kok, mari
kita makaaaaannn.. Itadakimasuuuuuu~
Setelah acara perkenalan yang
dilanjutkan dengan acara tukeran kado *padahal kita bertiga gak bawa kado
hakhak!* dengan sedikit ada kecemburuan sosial, kita hartus terima gak dapet
kado :( Eh eh, cara harus segera diakhiri nih karena cuaca yang tidak mendukung..
Langit nya udah gelap aja mameeeeenn! Padahal masih jam 3 loh ini huhu :( Ah gaasik ah nih, padahal gue belum dapet gebetan sama sekali, masa udah kudu
pisah aja #eh
Di
saat lagi neduh, Anjar ngenalin Mega ke Bang Acen buat direkrut jadi Designer, dan doi juga lagi nyari
Editor, yasyudaaahhh gue menawarkan diri deh, biar bisa sedikit berkontribusi
di komunitas ini.. Doakan saya yak! ^^v
Acara Piknik Emesh ini subhanallah
banget.. Angkat topi bagi semua panitia dan peserta yang ikut acara ini..
Ternyata di Indonesia masih banyak orang-orang hebat seperti kalian yang cinta
banget sama alam.. Semoga semangat travelling tetap terjaga dan bisa ditularkan
ke banyak penjuru ;) gak nyesel ikutan jadi member Japen.. Insightful banget..
Trully inspiring.. Baru beberapa hari gabung di grup whatsapp-nya tapi udah
berasa kayak keluarga aja.. Super salut! :)
![]() |
| Inilah 'Calon Teman' yang sudah menjelma menjadi 'Keluarga Baru' ;) |
Ketika bertemu kalian, para anggota
Jalan Pendaki, pikiran gue mengawang kembali ke ingatan masa lalu..
Jaman dahulu kala, 260 tahun sebelum
Masehi, hiduplah seorang gadis yang sedang menuntut ilmu di negeri sebrang.
Hyaaaaaa~ Kenapa malah jadi ngedongeng yak? Oke, kali ini serius yaaa.. Sebelum
gue bercerita panjang lebar tentang apa dan kenapa gue ikut Komunitas Jalan
Pendaki, izinkanlah gue yang imut ini untuk berbagi pengalaman saat bergabung
dengan Komunitas Book For Mountain (BFM). Boleh dong yaaaa??
Waktu itu, sekitar tahun 2011 gue yang
berstatus masih kuliah semester eeenggg.. (udah semester berapa yah? Maaf
mendadak amnesia :p) di sebuah Universitas swasta di Jogja, eh tapi sekarang
udah jadi Negri deng hoho *banggaaaaa*, dengan sok eksis ikut gabung ke sebuah
komunitas yang bergerak di bidang pendidikan dengan target menjangkau
sekolah-sekolah dasar yang tidak memiliki perpustakaan dan berada di daerah
terpencil di Indonesia.
BFM yang mengusung slogan “We love kids,
We love books, We adore Indonesia ini sudah 4,5 tahun berdiri. Perjalanan BFM tak
bisa lepas dari kata travelling, sudah 13 kali project di 17 desa di 7 pulau di
Indonesia. Coba bayangin, kalo temen-temen di BFM gak suka travelling kayaknya
gak mungkin bisa deh :p
Emang mayoritas temen-temen yang
bergabung di BFM tuh dasarnya seneng travelling, karena itu juga kegiatan project
pembangunan perpustakaan BFM masih terus berjalan. Project yang sudah
dijalankan oleh BFM sejauh ini antara lain seperti Sekber dan Voluntourism pun
tidak bisa lepas dari yang namanya travelling. Melalui traveling, mereka bisa
menemui dan menyapa adik-adik kita di pelosok Indonesia, untuk selanjutnya dapat
berbagi kebahagiaan dengan amak-anak. Melalui travelling jugalah mereka dapat meningkatkan
semangat berbagi dan menginspirasi terhadap anak-anak di pelosok Indonesia.
Travelling ke pelosok-pelosok Indonesia
untuk berbagi inspirasi dan menularkan minat baca kepada anak-anak. Wah,
semangat yang sangat bagus yaa, dan semangat itulah yang harus terus
dipertahankan oleh teman-teman BFM, semangat berbagi dan menginspirasi :)
Pada
dasarnya semua orang suka travelling, so kenapa tiap travelling tidak dicoba
untuk meninggalkan suatu yang berkesan?
Gue sih jadi kepikiran buat ngegabungin
idealisme dari 2 komunitas yang emang beda-beda tipis ini.. Yang pertama
travelling sambil ngajar, yang keduanya murni travelling, yaa sekedar piknik
hore lah.. Hey guys, gimana kalo kita yang suka travelling ini join di project
Voluntourism nya BFM yang akan datang?
Buat ngasih gambaran tentang ngapain aja
sih project Voluntourism tuh, gue kasih cuplikan cerita dari seorang teman gue
di BFM, Arni Rohmiatun, inilah catatannya.. So,
here it is.. *and here’s the longest
part* semoga gak males baca
sampe abis yah, hehe..
B
O N E !!!
Langit
Bone selalu membiru, bahkan awan pun terpola cantik meski tak beraturan. Ya
Bone. Kali ini tim Book fo Mountain (BFM) mengepakkan sayap ke tanah Sulawesi.
Menjelajah sisi lain Indonesia, membawa buncahan semangat dan harapan akan
perbaikan Negeri.
***
B
O N E !!!
Bone
dapat ditempuh sekitar empat jam perjalanan darat dari Makassar. Jalanan yang
sempit, menanjak, dan bergelombang, membuat kami tambah tersenyum lebar sembari
menahan rasa sakit terguncang di dalam mobil. Dari Bone menuju desa tempat BFM
akan diadakan, masih diperlukan waktu sekitar satu jam.
Akses
menuju tempat ini baru dibuka sewaktu ada pembanguna bendungan di desa
tersebut. Bahkan konon sebelum dibuka jalan ini, perjalanan dari Bone ke
Ponre-Ponre hanya bisa ditempuh dengan menaikki kuda Selma satu hari satu
malam. Unbelievable!
And here we are!!!
Sampailah
kami di Desa Ponre-Ponre. Perpaduan nuansa hijaunya alam dan birunya langit
membuat mood kembali membaik. Rumah
panggung yang menjadi cirri khas Sulawesi menyambut hangat kedatangan kami. Dan
tepat di seberang rumah panggung yang bakal jadi rumah sementara kami inilah,
Sekolah Jauh Tompo Bulu, Ponre-Ponre berada.
Miris!
Mereka
menyebutnya sekolah. Bangunan yang kira-kira hanya berukuran sekitar 4 x 4
meter. Sebuah bangunan dari bamboo menyerupai gubuk yang disekat-sekat dan
sudah bolong-bolong di atap dan dindingnya. Tak jarang banyak sapi yang masuk
ke bangunan tersebut untuk berteduh dan mencari makan. Padahal bangunan itu
adalah sekolah. Bangunan yang sebenarnya adalah bekas warung bakso yang
didirikan ketika pembangunan bendungan.
Sekolah
itu ditempati oleh sekitar 27 siswa terdiri dari dari kelas 1 sampai kelas 6.
Guru hanya ada 1 orang dan dibantu oleh 2 orang guru sukarelawan dari warga
sekitar. Kalau hujan datang, sekolah libur karena sekolah akan bocor dan
bergantilah sang sapiyang berteduh di banguna tersebut. Berbagi itu indah ya?
Hehe..
Mayoritas
murid sekolah tinggal jauh dari sekolah. Di ujung desa, di seberang bendungan,
bahkan di kaki gunung yang jaraknya berkilometer mendaki dan menuruni bukit.
Ketika kami datang, mereka yang rumahnya jauh sengaja menginap di rumah warga
sekitar sekolah demi untuk bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk belajar
bersama kami.
Terharu!
Luar biasa! Di tengah kesederhanaan seperti itu, lihatlah mutiara-mutiara itu
tetap berkilau cemerlang. Mereka mempunyai semangat dan daya juang ekstra
tinggi untuk belajar. Tears dropped!
Yah,
anak-anak itu luar biasa. Mereka selalu memenuhi rumah panggung kami dengan
keceriaan dan pertanyaan-pertanyaan yang tak terduga. Di luar jam sekolah, dari
pagi buta sampai larut malam, mereka terus membuntuti kami. Memaksa kami untuk
sekedar bercerita, membacakan buku, bermain, menggambar, menyanyi, bermain
origami, atau sekedar bermain tebak-tebakan peta buta.
Mereka
semua anak yang super. Mereka mempunyai daya juang tinggi untuk masa depan
mereka. Terselip juga rasa iba akan sepasang kaka beradik yang harus berjuang
sendiri mencari sesuap nasi karena ditinggal Ayahnya yang bekerja sebagai
buruh bulanan yang tak tentu kapan pulang.
Subhanallah, lihatlah sisi Indonesia
yang seperti ini!
Adakah di antara teman-teman yang
belum pernah sekalipun mengikuti upacara bendera? Tidak mengetahui lagu
Indonesia Raya? Ya, anak-anak itu belum pernah sekalipun melaksanakan upacara
bendera. Mereka tidak tahu apa itu lagu Indonesia Raya. Apa itu Undang-Undang
Dasar 1945.
Tepatlah
hari itu, Senin pagi. Hari dimana kami harus berpamitan setelah satu minggu di
Ponre-Ponre. Hari dimana mereka pertama kalinya melaksanakan upacara,
mengibarkan bendera merah putih, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Hari
dimana kami melihat hamper semua anak menyembunyikan tangis di belakang kami.
“Kak, besok balik lagi ya kesini!”
Tak ada suara dari kami. Hanya
anggukan dan senyum tulus yang keluar. Deeply
touched!
***
Lets
fight! Because every child ren have rights to fight.
So, finally, that is
all..
Semoga dapat menginspirasi bagi jutaan
anak muda di propinsi-propinsi lain untuk bersama-sama memajukan Indonesia
melalui pendidikan. Dan yakinlah, bahwa pendidikan yang baik dapat merubah masa
depan Indonesia walaupun butuh waktu yang sedikit lama untuk melihat hasilnya,
karena segala sesuatu memang butuh proses, ya kan? ;)
“Semua butuh belajar, buat memahami
apa yang kita gak ngerti.” –Deghe, 2015


Komen pertama gak nih???
BalasHapusKlo uda baca sesi jalan n kumpul kluarga nun jauh dsana sya hnya bisa trdiam smbil mratapi nasib... #tragis
Aku lala padamu :*
BalasHapusLove the way u write.
Besok nulis lagi kan?
Subhanallah...
BalasHapustetep semangat n tetep menginspirasi buat BMF...
Menohok sekali ceritanya
BalasHapus